Pengembangan Diri

Work Hard vs Work Smart

Pada 30 Mei lalu, terjadi serangkaian tweet fight yang bermula antara seorang tech investor bernama Blake Robbins dengan venture capitalist bernama Keith Rabois mengenai work-life balance. Robbins menyatakan bahwa terus bekerja sampai weekend dan hari libur adalah “recipe for disaster”. Sementara menurut Rabois, sukses justru harus didapat lewat jam kerja yang panjang. Sederhananya, ini adalah perdebatan soal work smart vs work hard, topik yang terlalu menarik untuk tim Andal lewatkan. Mari kita bedah.

Work hard

Memang tidak bisa disangkal bahwa work hard adalah syarat penting bila ingin sukses, terutama bagi anak muda dimana mereka harus melewati proses yang sulit supaya mereka belajar banyak hal dan menjadi lebih siap menghadapi tantangan. Work hard-lah yang membuat orang lebih tahan banting, berpengetahuan, dan berpengalaman. Adapun hasil yang didapat dari work hard adalah sebagai berikut:
– hasil akhir biasanya lebih sempurna
– lebih menguasai lapangan
– skill meningkat amat pesat

“Hard work beats talent when talent fails to work hard.” -Kevin Durant, Atlit NBA

Work smart

Tanpa work smart, kerja keras sering berhenti di tengah jalan tanpa hasil yang bisa dinikmati karena bekerja terlalu keras dapat memperpendek usia hidup; tiba-tiba saja mati mendadak. Biasanya karena penyakit, apalagi bila kerja keras tanpa rehat ini disertai gaya hidup yang berantakan seperti makan sembarangan, mengkonsumsi rokok dan alkohol berlebihan. Selain alasan kesehatan, work smart juga dapat dijadikan cara menilai kualitas seorang pekerja, apakah dia pekerja average alias biasa-biasa saja, atau seorang calon pemimpin. Karena biasanya, pekerja yang dapat mengatur waktu dan mendelegasikan tugas dengan baik lebih berpotensi untuk menjadi pemimpin. Keuntungan yang diperoleh dari work smart adalah:
– punya waktu lebih untuk keluarga atau hobi
– lebih mudah dapat dukungan dari rekan kerja
– lebih rileks dalam bekerja

Harus pilih mana?

Bagi tim Andal, work hard dan work smart bukanlah dua pilihan, namun sebuah kesatuan utuh yang harus dimiliki semua pekerja apapun bidang dan posisi anda, karena menguasai kedua hal ini akan menjadikan anda seorang pegawai atau entrepreneur yang diatas rata-rata, saat mayoritas orang hanya menguasai salah satunya.

Work hard bisa dibangun dengan membiasakan diri melakukan sesuatu terus-menerus selama mungkin.
1. Tentukan dahulu sebuah target yang doable.
2. Atur kapan dan berapa lama waktu yang akan anda habiskan untuk bekerja mencapai target tersebut. Untuk permulaan, jangan atur waktu yang terlalu lama sehingga jadi sulit untuk dijalani.
3. Setelah berhasil dengan waktu yang sedikit, mulai tambahkan lagi. Ditengah jalan anda akan bosan dan lelah. Disinilah titik penentunya, apakah anda tetap konsisten atau menyerah. Apa hubungan konsistensi dengan work hard? Thomas Alfa Edison baru berhasil menciptakan lampu pijar di eksperimennya yang ke-1000, artinya butuh konsistensi dalam work hard agar mental terlatih untuk tidak mudah menyerah. Mental yang lemah biasanya tidak sanggup bekerja keras.


Untuk work smart, Cara paling mendasar untuk melatihnya adalah dengan belajar time management. Time management membuat anda dapat mengatur hidup anda secara keseluruhan; kendali ditangan anda. Berikut langkah dasar membangun time management:
1. Tulis dahulu semua yang akan dilakukan, bisa per bulan atau per minggu, namun untuk latihan bisa mulai per hari agar doable dan terbiasa. Jangan lupa masukan family time dan me time.
2. Lihat list anda dan tanyakan pada diri sendiri, “apakah ini harus dikerjakan sekarang juga?”, lalu coret yang ternyata tidak perlu dilakukan buru-buru (perlu diingat, harus cepat belum tentu harus buru-buru.)
3. Lihat lagi list anda yang sekarang harusnya sudah menyusut dan tanyakan lagi pada diri sendiri, “siapa yang bisa bantu saya mengerjakan hal-hal ini ya..?” Bila anda seorang pemimpin, temukanlah orang yang tepat, bila hanya anda yang harus mengerjakan, kembalilah pada poin nomor 2 dan kali ini belalah diri anda lebih lagi. Renungkanlah sungguh-sungguh utung-ruginya melakukan hal tersebut. Apa dampaknya bagi pribadi, keluarga, atau karir anda dalam jangka panjang.

Menguasai keduanya memang memakan energi dan terdengar muluk-muluk, namun mengingat kualitas yang ada dalam keduanya dapat sangat menguntungkan, tim Andal rasa tidak ada salahnya mencoba. One step at a time.

 

Foto: Jake Melara (StockSnap)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s