Entrepreneurship

Sebuah Perenungan Tentang Emoji

Tepat seminggu dari sekarang, ada film yang sangat saya tunggu-tunggu: The Emoji Movie. Sebetulnya saya penggemar film drama yang filosofis, tapi yang membuat saya semangat menunggu film ini adalah selain karena ceritanya yang menarik, juga karena saya kagum dengan manuver Emoji yang tanpa pernah saya sangka bisa sampai membuat film. Lego The Movie sudah cukup mengagetkan buat saya, tapi film Emoji? Terlalu jauh dari imajinasi saya.

The Emoji Movie berkisah tentang satu emoji yang bisa memiliki bermacam-macam ekspresi, sementara di dunia emoji, tiap emoji hanya (diperbolehkan) punya satu ekspresi saja. Akhirnya karena dianggap tidak patuh dengan sistem, si emoji ini pun dibuang dan mulailah petualangan absurdnya di dunia digital bersama dengan emoji-emoji buangan lainnya.

Dari dulu, saya suka sekali dengan cerita alternatif yang bisa ditarik dan di-twist tanpa menghilangkan esensi dari kisah aslinya. Buat saya, ini adalah salah satu bentuk kreatifitas tertinggi. Kalimat barusan agak sulit diterima bila anda menganggap seni harus murni dan harus baru. Namun bukanlah rahasia bahwa there is nothing new under the sun. Ini bukanlah alasan namun sebuah kenyataan.

Banyak kreator hebat yang percaya bahwa tingkat kreatifitas seseorang justru dinilai saat dia harus berkarya dalam batasan, mampukah dia menghasilkan karya berkualitas walau terbatas ruang geraknya? Para penulis cerita The Emoji Movie ini berhasil merenggangkan dunia Emoji dari sekedar simbol-simbol lucu menjadi sebuah kisah. Kini mereka punya dunia dalam smart phone kita, punya pekerjaan, punya keluarga, punya sabahat, punya drama kehidupan.

Alasan kedua kenapa saya tertarik dengan film ini adalah bagaimana sebuah hal yang simpel, mundane (sehari-hari), bahkan agak konyol bisa menembus industri besar. Seingat saya, cuma hal-hal kolosal yang dipertimbangkan oleh dunia bisnis, seperti minyak bumi, batu bara, tambang emas, atau paling tidak motor bebek. Tapi zaman sudah berubah! Dalam indeks yang dibuat majalah Fortune, Walt Disney menduduki peringkat 5 dalam World’s Most Admired Companies, mengungguli General Electric di posisi 7.

Dalam skala ekonomi kecil menengah (SME), banyak sekali bisnis yang sukses hanya dari hobi. Bagaimana dengan perputaran uang di komunitas sneakers? Saya dengar, ada sepatu yang dijual sampai $28 ribu dollar! Saya percaya, casual is the future of business. Dari produk yang makin sehari-hari, service yang makin rileks dan personal, sampai hal kecil dan simpel yang bisa ditemukan di sekitar kita, seperti Emoji.

Perenungan saya yang super dalam dan super berat ini berujung pada sebuah kesimpulan – atau lebih tepatnya, sebuah tantangan. Dengan dunia yang sudah begini terbukanya, dimana ide kecilpun sudah mampu menembus major market, seperti emoji-emoji kecil yang kita download gratisan sekarang jadi film layar lebar dengan budget produksi $50 juta dollar, atau berjualan sepatu bisa meraup ratusan juta rupiah, tidak ada alasan untuk kita berhenti sampai sini.

Tinggal seberapa tinggi komitmen, kreatifitas, dan keberanian kita untuk melangkah membesarkan ide menjadi sebuah usaha, dan menjaganya. Di zaman sekarang ini, tidak ada yang terlalu sulit untuk dilakukan, dan tidak ada yang terlalu kecil untuk bisa menjadi besar. Saatnya memulai petualangan seru dan temukan potensi anda untuk menjadi lebih dari hari ini, seperti premis film The Emoji Movie: discover who you are.

(The Emoji Movie rilis di Amerika 28 Juli 2017, trailer bisa ditonton disini)

 

Gambar dari http://www.theemoji-movie.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s