Entrepreneurship Kantor

Pilih mana, Nge-kost atau Commuting?

Memang persoalan ini tidak sepelik urusan lebih dulu mana ayam atau telur. Akan tetapi, pertimbangan ini selalu keluar ketika menentukan langkah karir selanjutnya. Tidak, saya takkan bicara soal nge-kost dengan alasan ingin keluar rumah, seperti saat kuliah, atau commuting karena ada tanggung jawab di rumah. Saya akan condong kepada kalian yang benar-benar bebas dihadapkan oleh dua pilihan tersebut.

Mungkin salah satu faktor yang akan saya bahas berikut, begitu berpengaruh bagi Anda, dan yang lainnya tidak begitu.

Faktor pertama adalah waktu, yang sampai saat ini, masih sepenting uang. Saat dikalkulasi, nge-kost menghemat setiap detik berharga di pagi hari. Tak perlu bangun terburu-buru. Masih bisa buka timeline Path. Lebih bisa ‘menghayati’ kopi yang Anda aduk. Masih ada hidup di pagi hari, meski hanya beberapa menit, untuk mengumpulkan asa beraktivitas hari itu.

Namun bukan berarti commuting lebih buang-buang waktu. Tentu tidak, bahkan Anda bisa lebih disiplin dengan waktu. Harus bangun tepat pukul sekian karena bila telat sepersekian menit, jalanan sudah macet atau bus/kereta sudah sesak. Bukankah masalah ketertiban itu diperlukan dalam bekerja? Apalagi untuk memacu produktivitas Anda di kantor.

Selanjutnya, mari membahas tenaga yang mesti dikeluarkan. 10 menit berjalan kaki dari kost ke kantor tentu saja lebih mending dibandingkan 40 menit menahan kopling di tengah kemacetan. Namun siapkah Anda menyisakan sedikit tenaga dari seminggu bekerja untuk membereskan kamar kost di akhir minggu? Memang sudah banyak kost yang menyediakan jasa beres-beres, namun siapa sih yang mau ruang pribadinya disentuh tangan orang lain?

Anggaplah Anda tidak tinggal sendiri di rumah. Jadi bisa membagi setiap pekerjaan rumah dengan pasangan/orang tua/saudara. Weekend pun bisa diisi dengan bangun siang dan mengejar tukang bubur ayam paling enak di seputar kompleks. Tapi kembali lagi ke rutinitas berdesak-desakan selama 1 jam dalam angkutan umum, apakah itu setimpal dengan sisa-sisa tenaga yang terhimpun nantinya?

Terakhir, coba kita lihat dari sisi kehidupan sosial. Keduanya menawarkan bentangan hubungan sosial yang hampir sama, tapi berbeda dari cara tersajinya.

Dengan nge-kost, akan lahir istilah ‘teman kost’. Sebuah lingkup sosial yang berbeda. Kemarin saya baru melihat post teman di Path, saat dia sedang mengadakan makan-makan bersama tetangga kost-nya. Semua tertawa menikmati makanan, merangkai sebuah hubungan baru, dan bukan tidak mungkin, banyak kesempatan baru. Networking at its best

Namun di tengah kebisuan di antara para penumpang kendaraan umum yang terpaku pada gadget masing-masing, juga bisa mengasah kemampuan bersosialisasi kita. Kenapa begitu? Karena menurut pengalaman pribadi saya, Anda bisa mengamati perilaku dari orang-orang sebelah. Dari artikel online yang sedang mereka baca sampai nada suara yang mereka gunakan saat menelpon, semua bisa Anda simpulkan menjadi insight sosial yang berguna, terlebih bila Anda bekerja di bidang pemasaran atau riset.

Sekali lagi, semua bahasan di atas bisa berbeda-beda di setiap orang. Meski yang pasti, apapun pilihan Anda, selalu ada jalan untuk menjadikannya produktif, efektif dan efisien. Jadi, pilih nge-kost atau commuting?

 

Foto: Kaique Rocha (Pexels)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s