Bisnis Kantor Pengembangan Diri

Timing dan Manuver di Jembatan Busway

Jalur pejalan kaki di jembatan-jembatan busway umumnya memuat 3 orang, namun karena jalur tersebut digunakan untuk 2 arah berlawanan, jadi pejalan kaki tetap harus antri berjalan satu jalur, hanya bisa menyalip bila tidak ada pejalan dari arah berlawanan.

Alkisah, ada seorang pemuda yang baru mendapat proyek dari calon klien pada sebuah meeting di sebuah mall. Pemuda ini begitu girang, dia kembali ke kantornya dengan langkah membumbung tinggi penuh semangat, tidak sabar mengadakan meeting dengan rekan-rekan kantornya perihal proyek baru ini.

Dia menunggu Trans Jakarta dengan senyum lebar, masuk dalam bis dengan mata berbinar meskipun harus berdiri karena penuh, kemudian keluar dari koridor menyusuri jembatan penyeberangan, melangkah cepat dengan semangat yang masih sama. Berbagai ide berputar dalam benaknya yang ingin dituangkan di meja rapat.

Di depan pemuda ini, ada seorang yang berjalan pelan dengan kepala menunduk. Pemuda ini ingin sekali menyalip tapi pejalan kaki dari arah berlawanan cukup ramai sehingga tidak ada ruang untuk menerobos ke depan. Pemuda ini terpaksa ikut berjalan dengan pelan, meskipun kakinya menjinjit tergesa-gesa. Ingin sekali menegur orang pelan di depannya, namun pemuda ini sungkan dan khawatir menyinggung perasaannya. Berjalan beberapa meter dengan lambat, pemuda ini mulai frustrasi dan kehilangan semangat dan energi positif yang tadi tersimpan banyak dalam dirinya.

Beberapa kali ingin menerobos tapi pemuda ini sadar konsekuensinya bila menabrak orang dari arah berlawanan. Pertama, secara etika menabrak orang dengan sengaja tidaklah patut dilakukan sesama manusia. Kedua, pemuda ini sadar iklim emosional Jakarta yang makin garang. Senggolan bahunya bisa berakhir tragis bagi keselamatan hidupnya.

Lama-kelamaan binaran matanya mulai pudar. Dahinya kini mengernyit. “What is wrong with this guy?!” omelnya dalam hati, karena orang di depannya berjalan begitu pelan, tapi tidak ada yang dapat dilakukan pemuda ini, dan orang itu pun sepertinya tidak peduli atau mungkin tidak sadar bahwa dia menghalangi jalan. Sekarang, satu-satunya yang dipikirkan si pemuda penuh semangat ini adalah bagaimana dan kapan orang lambat ini bisa disalip.

Setelah beberapa menit, akhirnya tibalah rombongan ini di depan tangga untuk turun. Orang-orang otomatis berjalan pelan karena perlu menyesuaikan diri dengan anak tangga yang berbelok, begitupun orang-orang dari arah berlawanan yang sedang naik tangga berjalan dengan hati-hati. Kesempatan tiba untuk menyalip. Si orang lambat semakin pelan saat berbelok, sementara arah berlawanan masih kosong. Pemuda ini cepat-cepat berkelit mendahului ke depan dan berbelok turun dengan segera.

Bagi si pemuda, sore itu melatih kesabaran, saat keadaan tidak sejalan dengan rencananya. Dia berhak untuk mendapat jalan, namun perlu timing dan trik yang tepat bila ingin menang dengan cara yang terhormat (tidak menabrak orang lain). Bagi si orang yang berjalan lambat di depan, ingatlah ada orang dengan semangat dan kecepatan tinggi bisa muncul dari belakang dan menyalip posisi depan. Pilihannya, bangun dan berjalan lebih cepat, atau minggir; biarkan yang lebih berinisiatif berjalan di depan.

Semoga kisah ini dapat diaplikasikan dalam kehidupan profesional Anda.

One comment

  1. Cerita singkat, sederhana, penuh makna, tentang rencana, rintangan, kesempatan, risiko, keputusan, timing, kesabaran, toleransi, kesadaran dan hasil atas semuanya. Pelajaran lengkap bagi yg mampu menyimak……. perlu kedewasaan berpikir dan menyimpulkan.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s