Pengembangan Diri

Berkah Hidup Susah

Beberapa hari lalu, saya ngobrol dengan teman-teman soal sejarah penjajahan di Indonesia, yang kemudian meluas jadi diskusi tentang nasib bangsa. Seperti yang umumnya dibicarakan sekumpulan anak muda yang (sok) kritis, kami mengeluhkan kondisi mental Indonesia yang memprihatinkan; cepat puas, malas, dan lamban.

Kami menebak-nebak apa yang kira-kira membuat bangsa ini tumbuh dengan mental seperti ini, mental yang membuat negeri sebesar dan sekaya ini keok dengan hal-hal konyol, mulai dari politik adu domba zaman dulu sampai ekstrimisme beberapa waktu belakangan ini.

Saya pun berteori.

Mungkin, karena tanah bangsa ini sangat subur. Saya ingat seseorang pernah berkata kepada saya, “tanah kita ini subur banget. Lu makan jagung di jalan, ada biji yang gak sengaja jatoh. Besok-besok lu lewat jalan itu udah ada pohon jagung tumbuh!” Kita tahu ini hiberbolik tapi kita juga bisa tangkap poinnya. Bangsa ini tidak perlu bekerja terlalu keras untuk bisa makan karena tanah vulkanik yang sangat subur.

Mungkin juga, karena kita diberkahi cuaca yang cukup stabil. Di barat, mereka harus bekerja begitu keras dengan deadline sebelum musim dingin tiba karena salju yang membuat hidup jadi dua kali lebih berat. Tanaman mati, jalanan tertimbun salju, udara terlalu dingin untuk bekerja produktif. Kondisi ini memaksa mereka untuk berpikir ekstra keras, bekerja ekstra giat, hidup ekstra efisien untuk bisa bertahan. Musim dingin juga mengajar mereka tentang konsep menabung.

Sementara di nusantara, dengan kemakmuran yang kita miliki akhirnya memanjakan kita dengan hidup tanpa tantangan karena semua tersedia melimpah, tanpa perlu usaha yang terlalu keras. Akibatnya kita jadi lunak, cepat puas dengan yang kita punya, tanpa berpikir menjadikannya lebih baik lagi. Makanya kita cuma ‘gini-gini aja’ karena mental inovasi minim sekali di Indonesia.

Saya baru baca kisah perjuangan hidup William Tanuwijaya yang sangat sukar sebelum Tokopedia buatannya menjadi Unicorn (start up company dengan valuasi 1 miliar dollar  keatas). Hampir semua tokoh sukses lain juga mengalami perjalanan hidup yang sama, semua mulai dengan kesusahan bahkan sampai titik ekstrim. Sepertinya, kesulitan hidup menjadi syarat utama dalam membentuk dan menguji kebesaran hidup seseorang atau perusahaan. Mengapa?

Kalau dipikir-pikir masuk akal juga. Karena hidup yang berat membentuk mental kita menjadi lebih tangguh. Sementara orang lain menyerah, kita terus maju karena mental yang kuat. Hidup susah membuat kita berpikir lebih keras dan bekerja lebih efisien, karena tidak banyak yang kita miliki sehingga semua upaya kita tidak boleh sia-sia. Ini yang membuat uang tidak bocor, energi tidak terkuras. Mulai dari nol juga membuat kita rendah hati dan bersyukur akan setiap pencapaian. Inilah mental berkualitas yang menjadi cikal bakal orang besar.

Bangsa ini adalah raksasa dengan kekuatan besar, tapi selama ini tertidur karena dibuai oleh ini dan itu. Untuk membangunkannya perlu goncangan yang juga besar, untuk itulah bangsa ini perlu pria-pria yang tidak malas, tidak bodoh, tidak egois, yang mau bekerja lebih giat, belajar lebih pandai, berkontribusi lebih banyak agar si raksasa bernama Indonesia ini bisa terusik dan terbangun. Saat raksasa ini telah bangun dan mulai bekerja, nasib kita pasti berubah.

 

Foto: Brodie Vissers (Burst)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s