Bisnis Kantor Pengembangan Diri

Menjadi Problem Solver

Semua pasti mau diingat orang. Karyawan ingin diingat bos, entrepreneur ingin perusahaan atau brandnya diingat orang, Anda ingin selalu diingat pacar (kalau punya).

Minggu lalu, tim Andal sempat bertemu dan berdiskusi dengan seorang pria sukses dari Palembang dalam perjalan bisnisnya ke Jakarta. Dalam obrolan kami, beliau sempat bergurau, “kalau mau diingat orang, cuma dua hal: buat masalah atau selesaikan masalah.” Beliau mungkin bercanda, tapi perkataannya betul sekali. Tidak ada orang yang lebih kita ingat dari dua tipe diatas. Tentu pria yang waras tidak ingin diingat sebagai pembuat masalah, jadi mari fokuskan diri untuk menjadi problem solver.

Menjadi problem solver yang baik amat ditentukan oleh expertise dan penguasaan terhadap detail yang tentunya berbeda di setiap kasus, namun ada common sense yang bisa jadi acuan untuk mulai membiasakan mental Anda bekerja sebagai problem solver.

1. Dengar sebelum bicara

Anda salah bila menyangka problem solver harus rajin membombardir ruang rapat dengan banyak solusi. Problem solver bukanlah dinilai dari jumlah kemungkinan solusi yang diberikan, namun dari kualitas dan ketepatan solusinya. Seringkali solusi tersebut hanya satu dan sangat sederhana. Mengapa ini bisa terjadi? Karena problem solver yang efektif adalah orang yang mendengar dengan baik, sehingga dia memiliki banyak data untuk diolah sebelum beropini. Justru terlalu banyak ide yang tanpa dasar akan membuat kebingungan tim Anda. Dengarkan masalahnya baik-baik dan diam berpikir terlebih dahulu. Asumsi bukanlah awal yang baik untuk mencari solusi.

2. Mau bekerjasama

Terdengar sangat sepele, namun tanpa keterbukaan diri untuk mau bekerjasama, Anda akan sulit menjadi problem solver yang baik. Para konseptor besar dunia mampu membuat solusi yang inovatif dengan bantuan tim (mungkin teman) yang bekerjasama untuk merealisasikan idenya. Tanpa bantuan orang lain, solusi hebat Anda belum tentu tereksekusi, atau dalam kasus lain, Anda bahkan tidak bisa memberi solusi tanpa ada orang lain yang terlebih dulu membukakan celah bagi Anda untuk berkarya.

3. Melihat dari sisi lain

Anda gagal terus membuka sebuah barang, kemudian Anda coba buka lagi dengan alat atau sisi yang berbeda dan kali ini berhasil. Pernah alami ini? Kurang lebih proses menjadi problem solver yang baik juga sama. Anda perlu kreatifitas untuk mencari jalan lain, sisi lain, tools lain untuk selesaikan sebuah masalah yang tidak terpecahkan. Banyak orang menyerah dalam menyelesaikan masalah karena kelelahan berusaha menabrak tembok di depan mereka, padahal ada jalan lain yang tersedia. Secara waktu dan energi, membangun jalan baru malah bisa lebih cepat dan ringan.

4. Daya tahan & kesabaran

Berhubungan dengan poin sebelumnya, tanpa daya tahan yang kuat Anda akan lebih memilih untuk menyerah bila dua-tiga kali usaha belum juga membuahkan hasil. Anda bisa jadi seorang yang sangat pandai, namun tanpa daya tahan belum tentu Anda berhasil memecahkan sebuah masalah. Ketidaksabaran hanya menciptakan solusi-solusi lemah, ibarat bangunan mungkin tampak meyakinkan tapi ternyata fondasinya lemah karena dikerjakan buru-buru tanpa ketelitian.

Empat mental dasar diatas, ditambah dengan kerajinan Anda untuk terus menambah informasi sesuai bidang pekerjaan niscaya menjadikan Anda seorang yang diingat dan dicari orang, karena Anda seorang problem solver, bukan trouble maker.

 

Foto: PIRO4D (Pixabay)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s